Rabu, 30 November 2011

Teori Noam Chomsky

TEORI LINGUISTIK NOAM CHOMSKY
Oleh : Mudini[1]


A.     Pendahuluan
Bahasa manusia adalah objek linguistic. Manusia dengan segala keterbatasanya akan berupaya memaknai alam semesta dengan bahasanya. Factuality (fakta), reality (realita) dan actuality (aktualita) merupakan konsep metodologi ilmiah yang menjadi rujukan dalam kajian linguistic. Salah satu tujuan mempelajari bahasa adalah tujuan teoritis. Kalau dilihat, linguistic mempelajarai bahasa secara teoritis. Oleh karena itulah, dalam mempelajari bahasa atau mendeskripsikannya berdasarkan konsep-konsep linguistic. Bukan membangun teori berdasarkan bahasa tertentu, tetapi bahasa berdasarkan teori linguistic.
Manusia sejak dilahirkan membawa potensi linguistic, berupa kelengkapan alat berbahasa. Berpikir adalah berbahasa. Jadi permasalahan bahasa sangatlah kompleks, bukan hanya tentang fakta dan realita yang direfresentasikan lewat bunyi. Namun, melampaui batasan-batasan bahasa yang berkembang dalam diri anak secara spontan, tanpa usaha sadar dan instruksi formal. Pokoknya, dapat dipahami oleh yang mendengarkan.
Dalam linguistic, suatu bahasa dikaji berdasarkan tataran-tatarannya, sejarah perkembangan bahasa, dan membandingkan bahasa yang satu dengan yang lainnya. Sehingga ditemukan keterkaitan antara satu konstruksi bahasa dengan yang lainnya berdasarkan hukum dan aturan yang mengikatnya.
Dalam bahasa ada yang dikenal dengan folk linguistics, yaitu deskripsi atau kepercayaan orang awam ihwal bahasa yang tidak berdasarkan penelitian. Setelah muncul kritik habis-habisan sehingga menjadi teori saintifik. teori saintifik dapat dikatakan sebagai teori zaman modern yang banyak melahirkan tokoh linguistic modern diantaranya adalah Noam Chomsky. Ia menjadi sangat terkenal dengan teorinya yaitu Generatif Transformasi. Munculnya teori ini, memunculkan fase linguistic baru, revolusi ilmiah dalam bidang linguistic. [2]


B.      Biografi Singkat Noam Chomsky
Nama lengkapnya adalah Avram Noam Chomsky[3] (lahir di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, 7 Desember 1928; umur 82 tahun), dibesarkan di tengah keluarga berpendidikan tinggi, pasangan Dr William Zev Chomsky dan Elsie Simonofsky. Ia adalah seorang profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT). Yang merupakan murid dari Z.S. Haris. Salah satu reputasi Chomsky di bidang linguistik terpahat lewat teorinya tentang tata bahasa generatif. Ia menjadi sangat terkenal dengan bukunya yang berjudul Syntactic Structures (1957). Munculnya buku ini, timbul fase linguistic baru, revolusi ilmiah dalam bidang linguistic. [4]
George Orwell adalah salah seorang yang karya-karyanya sudah memukau Chomsky dan menginspirasinya semenjak remaja. Novel "Animal Farm, 1984", esai semacam "Language in the Service of Propaganda" atau "Homage to Catalonia", merupakan sedikit dari deretan karya Orwell yang memengaruhi Chomsky. Chomsky bahkan gemar membandingkan dirinya dengan novelis itu. Untuk mencari kebenaran sejati, Orwell berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk memperoleh informasi dari tangan pertama. Sedangkan Chomsky mengeksplorasi kebenaran itu dari buku dan khasanah teks yang ia baca. Ditambah kegemaran masa kecilnya, membaca seri ensiklopedi Compton.
Ayahnya dikenal dikenal sebagai ahli gramatika bahasa Ibrani, yang disebut harian New York Times sebagai ahli gramatika bahasa Ibrani terkemuka yang menulis sejumlah karya gramatika bahasa itu. Pada usia 12 tahun, Chomsky sudah membaca salah satu karya berat ayahnya tentang tata bahasa Ibrani abad ke-13. Selain memperkenalkan bahasa dan warisan budaya leluhurnya, Yahudi, ayah Chomsky juga memperkenalkan tradisi intelektual yang kelak melekat dalam diri Chomsky. Sementara ayahnya mewarisi tradisi kebebasan intelektual, ibunya yang memiliki kecenderungan kekiri-kirian (antikemapanan) menekankannya pentingnya keseimbangan untuk bertindak sebagai pemikir yang sekaligus aktivis.
Noam Chomsky adalah ahli linguistic yang cukup produktif dalam membuat buku. Chomsky telah menulis lebih dari 30 buku politik, dengan beragam tema. Kepakarannya di bidang linguistik ini mengantarkannya merambah ke studi politik. Dan sejak 1965 hingga kini, dia menjelma menjadi salah satu tokoh intelektual yang paling kritis terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Buku-buku bertema politiknya kerap dianggap terlalu radikal untuk diresensi atau ditampilkan media AS.
Selama lima dasawarsa ini, Chomsky telah menjalin kontrak secara langsung dengan lebih dari 60 penerbit di seluruh dunia dan sudah menulis lebih dari 30 buku bertema politik. Dan baris-baris kalimat dalam tulisannya muncul di lebih dari 100 buku, mulai dari karya ilmiah tentang linguistik, politik, hingga kumpulan kuliah, wawancara dan esai.

C.      Pemikiran Linguistik Noam Chomsky
1.         Teori Generatif Transformasi dan Pemerolehan Bahasa  
Teorinya terkenal dengan nama, tata bahasa transformasional genertif (Transformational Generatif Grammar) atau tata bahasa generative. Transformasi adalah memberikan beberapa tanda yang memungkinkan penutur dan pendengar memahami suatu kalimat.  Sedangkan Generatif mengandung 2 (dua) makna, yaitu[5] :
1.      Produktivitas da kreativitas. Bahasa adalah sesuatu yang dihasilkan penutur tanpa terikat oleh berbagai unsure bahasa itu sendiri.
2.      Keformalan dan dan eksplisit. Dari sudut pandang ini dapat dikatakan bahasa dikombinasikan atas unsure dasar berupa (Fonem, morfem, dan lain sebagainya)
Adapun Gramatika mempunyai pengertian keseluruhan kaidah yang ada pada jiwa pemakai bahasa yang mengatur serta berfungsi untuk melayani pemakai bahasa.[6] Berdasarkan pengertian tersebut diatas teori Generatif Grammar mempunyai beberapa tipe dan yang terpenting adalah tranformasi.
 Chomsky mendasarkan teorinya ini atas dasar asumsi bahwa bahasa menjadi bagian dari komponen manusia dan produk khas akal manusia. Karena unsur  yang membedakan manusia dengan hewan adalah kecerdasan dan kemampuannya berfikir. Bagi Chomsky (1968) tata bahasa merupakan system kaidah yang menghubungkan bunyi dan arti. Dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat , yakni :
1.      Kalimat yang muncul harus berfungsi dalam ujaran, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat
2.         Tata bahasa tersebut harus bersifat umum dan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu. [7]
Baginya kemampuan berbahasa pada manusia bukanlah produk (setting) alam, melainkan merupakan potensi bawaan manusia sejak lahir. Teori ini, ia kemukakan sebagai hasil dari penelitian yang ia lakukan pada perkembangan berbahasa seorang anak dalam hal pemerolehan bahasa berdasarkan teori hipoteseis atau teori kodrati.[8] Melalui pendekatan nativis Chomsky mengemukakan bahwa adanya ciri-ciri bawaan bahasa untuk menjelaskan pemerolehan bahasa asli pada anak dalam tempo begitu singkat sekalipun ada sifat amat abstrak dalam kaidah-kaidah bahasa tersebut..[9]
Seorang anak dapat menguasai bahasa ibunya dengan mudah dan cepat, bahkan pengetahuan itu juga diikuti oleh sense of language dari bahasa itu, yang lebih mengarah pada keterampilan dalam tata bahasa. Mereka dapat mengenal bahasa itu sehingga mampu merangkai kalimat dengan tepat, meski mereka tak mungkin bisa menjelaskannya.
Hal itu, ia yakini sebagai kemampuan naluriah yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Suatu hal yang mustahil bila kemampuan itu dianggap sebagai hasil pembelajaran, dari alam atau kedua orang tuanya. Penguasaan terhadap tata bahasa sebuah bahasa bukanlah hal yang mudah, terlebih untuk tingkat kanak-kanak.
Menurut Chomsky, focus teori bahasa adalah upaya menandai kemampuan  abstrak yang dimiliki pembicara, memungkinkan pembicara menggunakan kalimat-kalimat yang secara gramatikal benar dalam suatu bahasa.[10]
Kaidah-kaidah yang sangat Chomsky perhatikan ini mencakup atas ashwat (fonetik, fonologi), shorof (morfologi), nahwu (sintaksis) dan ma’ani (makna-makna). Tetapi, Chomsky lebih focus pada aspek amaliyah atau praktik dari kaidah sintaksis dan morfologi secara khusus. Mengapa ? karena menurutnya aspek amaliahlah yang asli dan pokok berupa kalimat yang menjadi pokok untuk membentuk bahasa dan analisa bahasa, kemudian kepadanya kaidah-kaidah fonetik dan makna-makna itu didasarkan.[11]
Teori Generatif-Transformasi yang diletakan oleh Chomsky adalah teori modern paling menonjol yang mencerminkan kemampuan akal, membicarakan masalah kebahasaan dan pemerolehannya, serta hubungannya dengan akal dan pengetahuan manusia.[12] Bahwa manusia lahir dengan kapasitas genetic juga mempengaruhi kemampuan kita memahami bahasa di sekitar kita, yang hasilnya adalah sebuah kontruksi system bahasa yang tertanam dalam diri kita. Menurut Chomsky, pengetahuan bawaan ini diumpakan dengan “kotak hitam kecil” di otak, sebagai sebuah perangkat pemerolehan bahasa atau language acquisition device (LAD). McNeill (1966) memaparkan LAD meliputi empat perlengkapan linguistic bawaan :[13]
1.      Kemampuan membedakan bunyi wicara dari bunyi-bunyi lain di lingkungan sekitar
2.      Kemampuan menata data linguistic ke dalam berbagai kelas yang bis adisempurnakan kemudian
3.      Pegetahuan bahwa hanya jenis system linguistic yang mungkin sedang yang lainnya tidak
4.      Kemampuan untuk terus mengevaluasi mengevaluasi system linguistic yang berkembang untuk membangun kemungkinan system paling sederhana berdasarkan masukan linguistic yang ada
Walaupun harus diakui bahwa LAD secara harfiah bukanlah segugus sel otak yang bisa ditunjuk dan ditentukan letaknya dan ditentukan letaknya. Namun demikian, para Chomskyan berpendapat bahwa gagasan tentang bakat linguistic bawaan sepenuhnya cocok dengan teori generative; anak-anak diyakini memanfaatkan kemampuan bawaan untuk menghasilkan sejumlah ujaran yang kemungkinannya tak terbatas.
Untuk melanjutkan penyelidikan tentang hal ini, maka kaum nativis melakukan sebuah penelitian yang kemudian dikenal sebagai tata bahasa universal (universal grammar). Hal ini berkaitan erat dengan masalah logika bahasa (input bahasa) dan kemampuan berbahasa, dalam pandangan Chomsky dan para pendukungnya, terkandung istilah yang dinamakan “kaidah-kaidah alami universal” (the innate universal grammar)”. Kaidah alami-universal ini merupakan kemampuan akal yang tertata yang dengannnya manusia bisa mengetahui kaidah-kaidah bahasa tanpa mempelajari kaidah-kaidah ini dalam bentuk teori tradisional.[14]
Pada umumnya, semua bahasa memiliki kesamaan kaidah-kaidah dan system yang bersifat universal dan tidak ada kekhususan bagi bahasa tertentu yang terdapat pada anak, meskipun berbeda bahasa dan pendidikannya. Artinya, kaidah ini mengandung system yang permanen yang ada dalam akal manusia.[15] Karena itu, pemerolehan kaidah-kaidah ini merupakan kemampuan kodrati yang dimiliki semua orang yang normal, apapun bahasa ibunya, atau apapun budan dan tingkat pendidikannya.[16]

2.    Struktur Dalam dan Struktur luar
Wilhem Von Humboldt berpendapat bahwa bahasa adalah bunyi (Lutform), dan pikiran (idennform/innereform). Atau dengan kata lain bunyi bahasa merupakan bentuk luar, sedangkan pikiran adalah bahasa yang kita rasakan (bathin) bentuk dalam.[17]
Dalam teorinya ini, Chomsky sangat menaruh perhatian besar pada kaidah yang diistilahkan oleh dengan “system yang dalam akal penutur bahasa yang berbentuk bathin,, yang diperolehnya semasa kecil[18]
Analisa bahasa khususnya sintaksis disamping tataran yang lebih konkrit berupa bentuk-bentuk sintaksis atau srtruktur atas (surface structur), terdapat juga tataran yang lebih abstrak yaitu struktur bawah (deep structur). Struktur bawah inilah yang menjadi landasan utama dalam pembahasan teori Generatif Transformasi.[19]
Struktur dalam, kadang juga disebut struktur bathin-kalimat didefinisikan sebagai “konsep pengetahuan tersembunyi yang dimiliki oleh penutur bahasa yang dengannya ia bisa mengetahui kaidah bahasanya” atau dengan ungkapan lain adalah untuk mengatur struktur kalimat dan menentukan semua factor untuk memahami kalimat dan maknanya; karena hubungan nurani antara bagian-bagian kalimat dalam tataran ini, jelas, dan dapat ia mengerti”.[20]
Adapun-struktur-luar-bahasa adalah fase akhir dari proses pembentukan kaidah dalam membuat kalimat setelah mengaplikasikan kaidah-kaidah transformasi tertentu atas struktur dalamnya. Ia adalah bentuk lahiriah bunyi yang diucapkan dan didengar atau dibaca. [21]  Atas dasar ini, ilmu Nahwu (sintaksis), bukanlah studi kumpulan contoh-contoh kalimat dalam suatu bahasa, tetapi ia hanyalah sebuah system yang ada adalam akal si penutur bahasa, yang diperolehnya sejak anak-anak. Fungsi teori bahasa adalah mengetahui system ini. System tersebut diistilahkan dengan competence (kemampuan) yang dikontraskan dengan performance (perbuatan berbahasanya). Dengan demikian, Chomsky jelas menolak analisis bahasa dibatasi pada tataran fonologi dan morfologi yang hanya berdasarkan struktur lahir (surface structure). Tanpa struktur bathin (deep structure). Bahkan ia menganggap bahwa cara seperti ini adalah titik paling lemah dalam menganalisa bahasa. Karena bahasa aadalah aktivitas akal.
Jadi nahwu (sintaksis) merupakan kaidah yang berdasarkan hubungan antara struktur-dalam-bahasa dan struktur-luar-bahasa yang menentukan makna suatu kalimat. Hubungan tersebut dinamakan transformasi atau dalam hal disebut dengan tata bahasa transformasi adalah proses produksi kalimat melalui perantara kaidah-kaidah transformasi, yakni mengalihkan struktur bahasa dalam kepada struktur bahasa luar. Kemudian struktur bahasa luar tersebut dianalisis.
3.    Kreativitas dalam berbahasa
Masalah penting lainnya yang dibahas dalam teori Generatif-Transformasi adalah daya kreativitas dalam bahasa. Dengan kata lain, teori ini menekankan pentingnya bahasa kreatif-salah satu sifat dasar manusia yang bersifat kolektif. Bahasa kreatif inilah yang membedakannya dari bahasa artifisial (buatan). Sekaligus menjadi titik perbendaan aliran kognitif dan aliran behaviorisme.
Pengalaman berbahasa, memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan bahasa manusia itu sendiri-bagaimana pada akhirnya merupakan bentuk prilaku yang paling cerdas yang dimiliki manusia.[22] Kecerdasan linguistic merupakan kecerdasan yang paling universal dan penting dalam kehidupan manusia.
Seorang amat berbakat bahasa mempunyai  sensitifitas yang tinggi terhadap bunyi dan fonologi bahasa. Mereka biasanya mahir memanipulasi sintaksis (nahwu-struktur atau susunan kalimat bahasa). Demikian pula halnya tentang semantik ( ma’ani-pemahaman mendalam tentang makna).[23]
Kemampuan kreatifitas ini terbentuk dari pengetahuan manusia yang alami terhadap kaidah-kaidah bahasa yang terbatas. Dari sinilah muncul penamaan teori ini dengan nama teori generative. Sebagaimana yang telah dijelaskan.
Chomsky mengisyaratkan bahwa tujuan berbahasa adalah agar penutur bahasa tertentu bisa mengcreate atau menciptakan dengan daya kreasinya kalimat-kalimat baru dan memahaminya dengan benar, meskipun sebelumnya ia tidak pernah mendengarnya.
Jadi komponen kecerdasan linguistic yang paling penting adalah kemampuan menggunakan bahasa untuk mencapai sasaran praktis (pragmatika). Kreatifitas berbahasa menunjukan bahwa bahasa tidak sekedar pembelajaran daftar kalimat yang dihasilkan penutur sejatidan mengulanginya seperti burung beo. Kebaruan kalimat yang dibuat itu menunjukan perlawanan teori aliran behaviorisme bahwa belajarbahasa adalah pemerolehan seperangkat kebiasaan (linguistic habits)[24]

4.    Kompetensi dan performa
Masalah kreativitas dalam bahasa, berpengaruh besar terhadap pemeroleh bahasa. Demikian, karena kreativitas akan membedakan adanya kompetensi (kifayah lughawiyah-pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa tentang bahasanya) dan performance (al-‘ada al-lughawi-perbuatan berbahasa).[25] Chomsky dalam banyak tulisannya, menjelaskan kajian bahasa seharusnya dijadikan untuk menyingkap kompetensi ini, dan tidak hanya melihat perbuatan berbahasa.
Linguistik bagi Chomsky adalah terutama berkaitan dengan kompetensi yang terdiri atas dua jenis: kompetensi pragmatic dan kompetensi gramatikal. [26]
Kompetensi berbahasa atau (القدرة اللغوية )[27] adalah pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa yang dimiliki oleh penutur bahasa secara bathin. Kompetensi menunjuk pada pengetahuan dasar seseorang tentang system, kejadian dan fakta. Ini adalah kemampuan yang tak teramati dalam melakukan sesuatu atau menampilkan sesuatu. Sebaliknya Performance (الاداء اللغوى ) merupakan aplikasi  dari pengetahuan tersebut dalam memahami melalui mendengarkan (listening), berbicara (speaking), dan menulis (writing). Ini adalah tindakan nyata, seperti berjalan, menyanyi, menari dan berbicara. Artinya kemampuan berbahasa merupakan esensi akal yang tersembunyi dibalik perbuatan berbahasa; sedangkan perbuatan berbahasa itu  sejatinya adalah cerminannya. Tetapi adakalanya, perbuatan bahasa menyimpang dari pengetahuan ini, karena sebab-sebab yang muncul, seperti kelelahan, sakit, salah ucap atau salah tulis.[28]
Tentang bagaimana kompetensi ini diperoleh, sebenarnya berkaitan dengan pemerolehan bahasa itu sendiri. Dalam hal ini, menurut pandangan Chomsky, anak yang tumbuh dan besar dilingkungan bahasa tertentu, ia mendapatkan pengetahuannya dengan fitrah alami, tanpa perlu belajar tentang kaidah bahasa dalam bentuk teori langsung.
Dalam hal ini Chomsky berpendapat :[29]
“… Teori linguistic utamanya berkenaan dengan pasangan ideal pembicara-pendengar dalam suatu masyarakat bahasa yang homogeny, yang mengetahui bahasanya secara sempurna dan tidak terpengaruh oleh kondisi secara gramatiakl tidak sesuai, seperti keterbatasan ingatan, penyimpangan, pergantian perhatian dan minat, dan kesalahan-kesalahan (acak atau khas) dalam mengaplikasikan pengetahuan bahasanya dalam performansi nyata”.
Menurut Chomsky, focus teori bahasa adalah upaya menandai kemampuan abstrak yang dimiliki pembicara, memungkinkan pembicara menggunakan kalimat-kalimat yang secara gramatikal benar.


D.    Hipotesis Natural dan Kaidah Universal
Pengetahuan alami, dalam pandangan Chomsky, menjadi masalah mendasar yang kemudian ia namakan dengan istilah ‘hipotesis” atau teori alami.[30] Bagaimana memperoleh bahasa berdasarkan pendekatan fitrah-alami manusia.
Bahwa kesemestaan bahasa harus bertolak dari satu bahasa bukanlah suatu keniscayaan menurut asal usul perkembangan bahasa itu sendiri. Macam-macam semesta bahasa, yaitu ; pertama : semesta subtantif adalah semestaan yang berbentuk kategori-kategori yang terdapat dalam tiap tataran pada semua bahasa didunia. Dalam hal fonologi misalnya, semua bahasa memiliki vocal. Semesta subtantif membatasi kelas-kelas bahasa dalam dua cara yaitu : suatu semesta merupakan keharusan yang ada pada tiap bahasa. Dan bahasa yang terdapat dalam suatu wilayah mungkin menunjukan kaidah, aklau dilihat secara bersama-sama pada semua bahasa diwilayah itu.  Kedua, semesta formal merupakan semesta yang berwujud kaidah-kaidah bentuk lahir.[31]
Kemampuan memperoleh kemampuan bahasa itu telah tertanam dalam dirinya sejak ia lahir. Karena itu siapapun yang lahir dilingkungan manusia tertentu, ia akan memperoleh bahasa lingkungannya itu, tanpa melihat tingkat pendidikan dan sosialnya- selama ia tdak mengalami hambatan kuat, baik mental, maupun fisik yang menghalanginya dalam mendengar, memahami dan menggunakannya.[32] Maksudnya bahasa menurut teori ini bukanlah prilaku yang diperoleh dengan cara belajar, berlatih fisik dan praktek, seperti yang dipercaya kaum behaviori. Bahasa adalah fitrah akal yang merupakan pembawaan akal.[33] Kaidah universal melahirkan tata bahasa (grammar) yang diaplikasi dala teori kodrati sebagaimana telah dijelaskan.
Dari kaidah tersebut, Chomsky menyimpulkan bahwa semua kaidah bahasa terbagi pada dua bagian yaitu prinsip dan parameter.[34] Sedangkan Chomsky membaginya kedalam Core Grammar (Prinsip) dan peripheral grammar (parameter). Core Grammar (kaidah dasar) atau diistilahkan dengan nama unmarked rules (kaidah tidak bertanda) adalah karakteristik tetap semua bahasa yang dipelajari mempunyai kesamaan dengan mayoritas bahasa didunia. Dalam hal ini Marastos (1988) menyebutkan beberapa kategori linguistic universal, yang menjadi prinsip, yakni ;
ü  Susunan kata
ü  Nada penanda morfologis
ü  Persesuain gramatikal ( misalnya menyangkut subjek dan kata kerja)
ü  Referensi tereduksi
ü  Predikatif
ü  Negatif
ü  Pembentukan pertanyaan
Sedangkan peripheral grammar (kaidah tersendiri, bukan pokok) atau diistilahkan dengan nama marked rules ( kaidah yang bertanda) adalah kaidah khusus yang bahasa tersebut yang tidak ada pada mayoritas bahasa. [35]
Sebuah kerangka generative ternyata ideal untuk menjelaskan proses pemerolehan bahasa. Maka lahirlah apa yang disebut tata bahasa awal pada bahasa anak-anak disebut tata bahasa poros (pivot grammars). Perhatikan ujaran berikut : “my cap”, “that horsie”, bye-bye Jeff”, Mommy sock”. Dengan deskripsi :
Kalimat               kata poros    +    kata terbuka
Kata-kata pertama kita sebut poros (my, that, bye-bye), dan kelompok kedua disebut kata terbuka (cap, horsie, mommy, sock)
Berikut secara sederhana kami sampaikan beberapa analisa transformasi menurut Chomsky[36] ;
1.      Transformasi Aktif dan Pasif
Contoh ;
Analisa struktur            : GN1 – (me N) + Vt – GN2
                                           1           2          3         4    
Perubahan Struktur   : 1-2-3-4---à 4+di-+3+oleh+1


Jika Vocabularinya berupa kalimat :
Adik      membantu       kakak
   1         2       3               4
Maka hasil transformasi pasif menjadi :
  Kakak                         dibantu                        oleh     adik  
4              di-3               oleh       1
2.      Transformasi Umum
       Contoh : Pembantu      mengejar          ayam itu
                            1                  2                     3        
                    Pembantu        menangkap      ayam itu
                            4                  5                      6
Digabungkan menjadi -----à 1-2 dan 5-3
Hasilnya : Pembantu mengejar dan menangkap ayam itu
                        1              2                         5             
3.      Diagram Pohon
Kaidah :
K

FB                                                                     FK

KB                                                        KK                  FB

                                                                                      KB
Ibu                                                        mencuci          pakaian
Atau dengan menggunakan tanda kurung:
   
  Ibu                   mencuci         pakaian







E.     Penutup

Tongkat Pembabakan pendapat dimulai dari dua bukunya yaitu Syntactic Structures (1957) dan Aspect of theory of syntac (1965). Berdasarkan kedua buku tersebut Teori Generatif Tranformasi ini secara tegas memang menyatakan keluar dari aliran struktural Bloomfield dan menolak teori Behaviorisme. Namun tetap, bahwa kajiannya tak terlepas dari unsur kalimat yang merupakan focus kajian sintaksis.
Teori ini mengundang berbagai kritik dari ahli bahas, sehingga menampakan beberapa kelemahan dari teori Chomsky salah satunya adalah isu sentral tentang kapasitas manusia dalam pemerolehan bahasa. Hal ini membutuhkan penjelasan secara ilmiah dan menyakinkan akan pewarisan genetic terhadap kemampuan linguistiknya. Bagaimanapun bahasa adalah bagian integral yang tidak terpisahkan dari manusia, wujud dari kemampuan akalnya yang mampu mengeksplorasikan semesta dengan bahasanya sendiri, tanpa takut akan kesalahan berbahasa secara gramatikal dan terbebas dari aturan yang ada.
Teori Chomski erat kaitannya dengan kajian psikologi bahkan dalam beberapa pendapatnya agak sulit untuk membedakan. Karena keduanya disajikan dalam satu bingkai. Lebih jauh, masalah psikologi adalah adalah membahas sesuatu yang sangat abstrak dan unik. Maka, wajar menurut penurut, bila teori ini sangat menarik dan mengundang banyak kontroversi (kritik), oleh orang awam tentang teori sekalipun. Terlebih bahasa itu adalah bahasa manusia yang terus mengalami perkembangan sesuai dengan konteks manusia itu sendiri.
Wallahu a’lam ….


[1]  Mahasiswa Magister PBA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dipresentasikan pada mata kuliah; an-Nadzariyat al-
    Lughawiyah \. Diampu oleh : Prof. Dr. H. Matsna HS, MA
[2] Mansur Pateda, Linguistik (Sebuah Pengantar), Bandung : Angkasa bandung, 1990), cet. 1, hal. 41
[4] Mansur Pateda, Linguistik (Sebuah Pengantar), Bandung : Angkasa bandung, 1990), cet. 1, hal. 41
[5]  Gory Keraf, Linguistik Bandingan Tipologis, (Jakarta : Gramedia, 1990), Hal. 95
[6]  Gory Keraf, Linguistik ……………………………………………………… Hal. 97
[7] Mansur Pateda, Linguistik (Sebuah Pengantar……………………… hal. 41
[8]  Abdul Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung : Humaniora, 2009) cet. 1, 
    hal. 91 . Alih bahasa oleh : Jailani Musni
[9]  H. Douglas Brown, Prinsip pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, (Jakarta : 2008), edisi kelima, hal. 30.
[10]  Furqanul Azies, A. Chaedar Al Wasilah, Pengajaran Bahasa Komunikatif (teori dan Praktek), ( Bandung : Rosda
    Karya, 1996), cet. 1, hal. 16
[11]  Abdul Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung : Humaniora, 2009) cet.  
    1,  hal. 72. Alih bahasa oleh : Jailani Musni
[12]   Abdul Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik …………………………..hal. 71. .
[13] H. Douglas Brown, Prinsip pembelajaran ……………………………. hal. 31.
[14] Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik …………………………..hal. 71
[15] Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik …………………………..hal. 87
[16] Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik …………………………..hal. 87
[17] Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik, Jakarta : Rineka Cipta, 2009), hal. 51
[18] Abdul Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik ………………….Hal. 72 
[19] Gory Keraf, Linguistik ……………………………………………………………Hal. 170
[20] Abdul Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik ………………….Hal. 75
[21] Abdul Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik ………………….Hal. 75
[22] Thomas Amstrong, Kinds Of Smart; Menemukan dan MeningkatkanKecerdasan Anda berdasarkan Teori Multiple
     Intelligence, (Jakarta : Gramedia, 2005), cet. 5, Hal. 19
[23]  Thomas Amstrong, Kinds Of Smart……………………………………………………………..Hal. 21
[24]  Ini adalah salah satu dari beberapa ayat teori grammar yang diajukan Chomsky. A. Chaedar Al wasilah, Filsafat
     ………………………………………….. Hal. 52
[25]  Abdul Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik ………………….Hal. 72 
[26]  Ini adalah salah satu dari beberapa ayat teori grammar yang diajukan Chomsky. A. Chaedar Al wasilah, Filsafat
     Pendidikan,  ( Bandung : Rosda Karya, 2010), cet. Hal. 52
[27]. Mahmud Fahmi Zaidan, fi falsafatillughah, (Darun Nahdhah : Beirut, 1985), hal. 144
[28]  Abdul Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik ………………….hal. 79
[29]  A. Chaedar Al Wasilah, Furqanul Azies,  Pengajaran Bahasa Komunikatif; Teori dan Praktek, (Bandung : Rosda
     Karya, 1996), cet. 1, Hal. 16
[30]  Abdul Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik ………………….hal. 80
[31]  Gory Keraf, Linguistik ……………………………………………………………Hal. 175
[32]  Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik ………………….hal. 80
[34] H. Douglas Brown, Prinsip pembelajaran ……………………………. hal. 44
[35] Azis bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik …………………………..hal. 89
[36] J.D. Parera, Dasar-dasar Analisa Simbolik, (Jakarta : Erlangga, 2009),  hal. 102-105

2 komentar:

  1. Urain yang sangat mencerahkan, terimakasih

    BalasHapus
  2. Saya sungguh berterima kasih atas penjelasan mengenai teori linguistik Chomsky yang sangat saya perlukan dalam Final Project Komunikasi Psikologi. Saya tidak akan menjiplak karya tulis anda mentah-mentah. saya akan kembali membaca nya berulang ulang agar saya paham dan dapat menguraikan teori ini dengan bahasa saya sendiri. sekali lagi saya ucapkan terimakasih.

    BalasHapus